Pendidikan Seumur Hidup

Pendidikan seumur hidup dipelopori oleh Nabi Muhammad SAW sejak 1342 tahun yang lalu yang menyuruh umat manusia, khususnya islam untuk menuntut ilmu sejak lahir atau dari ayunan sampai meninggal dunia atau sampai ke liang lahat. Dalam salah satu hadits yang disampaikan rasulullah setelah merenungi kejadian alam, kejadian dan umur manusia adalah lebih panjang daripada umur binatang dan merenungkan kandungan Al-qur’an tentang ilmu yang dikandung oleh Al-Qur’an sangat banyak yaitu semua alam raya dan fana ini baik di atas permukaan bumi dan dalam perut bumi adalah benda-benda yang mempunyai nama sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Baqarah yang mengatakan bahwa : Allah mengajarkan kepada Adam (di surga) semua nama yang ada di alam ini untuk diketahui oleh anak cucu. Untuk mengelola alam ini manusia pintar, pandai dan memperoleh pendidikan, baik karena formal di sekolah, secara informal di lingkungan keluarga maupun di lingkungan non formal dalam masyarakat atau melalui belajar sendiri yang disebut auto didact.

Makin banyak ilmu seseorang, makin berasa dia bodoh karena makin banyak yang belum dan harus diketahui. Sebab itu Allah menciptakan manusia selalu dalam keadaan berpikir, tidak puas dengan yang ada dan selalu ingin tahu atau couriusity. Seorang sarjana terkemuka bernama Edwin R. Guthrie melakukan penelitian mengenai belajar seumur hidup ini melalui teori stimulus dan respon atau S-R. Menurut hasil penelitiannya bila seseorang mendapat stimulus atau perangsang tentu ia akan melakukan reaksi atau respons. Setelah ia memberi respon orang tersebut memperoleh ilmu dan pengalaman. Ilmu dan pengalaman yang diperolehnya ini dijadikannya modal untuk menambah ilmu, sehingga mencari stimulus baru melalui belajar. Dalam belajar ia memperoleh stimulus (S), maka ia akan merespon (R) sehingga dalam dirinya terbentuk S-R. Misalnya seorang siswa SD selama 6 tahun ia mendapat S-R melalui ijasah atau tamat sekolah. Dengan berbekal S-R dari SD ia melanjutkan studi ke SLTP melalui S-R selama 3 tahun dan memperoleh S-R kedua dan ijasah SLTP. Begitu pula ke SLTA mendapat S-R ketiga dengan ijasah SLTA. Selanjutnya ke program S1 selama empat tahun meraih sarjana strata satu melalui S-R ke empat. Kemudian melanjutkan ke S2 selama dua tahun memperoleh Magister melalui S-R ke lima. Juga ia melanjutkan ke program doktor selama tiga tahun menggondol gelar Doktor melalui S-R ke enam dan memperoleh  kedudukan selama menduduki kedudukan ini ia memperoleh S-R ke tujuh. Berdasarkan konsep S-R ini maka manusia belajar terus.

Posted on Agustus 5, 2011, in Catatan Kuliah, Pendidikan and tagged , , . Bookmark the permalink. 1 Komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: