Senyum Sejenak, Nice…Fun…

Full View
senyum sejenak, nice…fun…

silakan senyum sejenak….

Minum Kopi
Hance : Aku kalau minum kopi tidak bisa tidur.
Yoshi : Kalau aku malah sebaliknya, kalau tidak minum kopi tidak bisa tidur.
Nyong : Kalau aku lebih parah lagi, kalau sudah tidur tidak bisa minum kopi.

Anjing Pintar
Istri : pa, sekarang anjing kita makin pintar aja deh, Pa! Dia membawakan koran baru setiap pagi
Suami : Itu sih biasa aja.. Banyak anjing yang bisa seperti itu.
Istri : Tapi kita kan tidak pernah langganan koran Pa!

Obat Panas
Seorang dokter melihat pasiennya yang sedang membuat kopi, kemudian memasukkan sebutir obat ke dalamnya.
Dengan penasaran dokter bertanya kepada si pasien.
Dokter : “Obat apa yang kamu masukan ke kopimu?”
Pasien : “Obat penurun panas, biar kopinya cepat dingin.”

Penjual Gado-Gado
Suatu hari sebuah kereta api melaju dengan kencang hendak melewati perkampungan. Di perkampungan itu ada seorang ibu penjual gado-gado selesai mencuci serbetnya (kain lapnya) yang berwarna merah. Selesai mencuci dia mengibaskan serbet tersebut untuk dijemur di pagar pembatas antara rel kereta dengan kampung..
Dari kejauhan, sang masinis kereta melihat si ibu dengan kain lap yang berwarna merah yang dikebas-kebaskan. . Masinis menjadi menyangka ibu itu memberi tanda bahaya. Dengan khawatir masinis segera mengerem keretanya secara mendadak hingga menyebabkan para penumpang kereta terjungkal.
Lalu masinis bertanya pada ibu tersebut, ” Ada apa, Bu!”
Si ibu penjual gado-gado pun menjawab dengan ringan, “Hampir habis, Pak. Tinggal kacang panjang dan kangkung doang!”

Sari….
Suatu malam polisi merazia bencong-bencong di Taman Lawang. Mereka diangkut ke truk polisi dan selanjutnya diinterogasi di Polsek.
Polisi: “Siapa nama kamu???!!!”
Bencong (gugup): “Sss…ari, Pak…”
Polisi: “Yang bener kamu…jangan boong!!!!”
Bencong: “Iya…Pak.. . bener kok Ssarii..gak boong…”
Polisi: “Bohong!!!! Pasti bohong!!! Kalo bohong mati lu…”
Bencong (mengeluarkan suara aslinya): “Sari…pudin, Pak!”

Turis
Dua orang turis dari Amerika masuk ke sebuah restoran Cina di Glodok.
Ketika melihat semangkuk sambal di atas meja, seorang dari mereka berkata, “Makanan apa ini?”
“Kelihatannya enak benar,” temannya menyambung.
Tanpa ragu-ragu si turis yang pertama tadi mengambil sesendok sambal dan dilahapnya sekaligus.
Tentu saja mendadak airmatanya berleleran.
“Kenapa kamu menangis?” tanya temannya.
“Ah, tidak apa-apa,” jawabnya kalem. “Saya cuma sedang teringat akan ayah saya yang barusan meninggal. Makanan ini sungguh enak.”
Tanpa ragu-ragu pula temannya tersebut mencoba sesendok sambal.
Sebentar kemudian airmatanya pun berleleran pula.
“Kenapa kamu menangis?” tanya si turis pertama.
“Ah, tidak apa-apa. Saya cuma menyesal kenapa kamu tidak ikut meninggal bersama ayahmu saja!!”

Tanah Rot
Pada suatu hari, sepasang turis lokal pergi berlibur ke Bali . Di sana mereka mengunjungi tempat-tempat wisata seperti, Ubud, Danau Batur dan Tanah Lot. Setibanya di Tanah Lot , Pasangan itu memperdebatkan sesuatu hal
yang sepele. Si suami berkata, “Menurut papan penunjuk arah di depan sana , tempat ini namanya Tanah Rot.”
Namun si istri membantah, “Nggak, tempat ini namanya Tanah Lot”
“Tanah Rot!” kata si suami.
“Nggak, Tanah Lot!” bantah si istri lagi.
“Tanah Rot!”
“Tanah Lot!”
“Rot!”
” Lot !”
“Rot! Rot! Rot!” balas si suami.
” Lot ! Lot ! Lot !” balas istrinya.
“Ya, udah, daripada kita ribut, nah … tuh ada orang berpakaian adat Bali , kita tanya aja orang itu. Aku yakin dia tahu banyak akan tempat-tempat wisata di sini,” kata si suami.
Lantas si suami bertanya kepada bapak tua yang berpakaian adat Bali tersebut. Katanya, “Pak, numpang tanya yach … tempat ini namanya
Tanah Rot atau Tanah Lot? sebab menurut papan penunjuk jalan itu, tempat ini namanya Tanah Rot, sedangkan di peta katanya tempat ini bernama Tanah Lot, karena menurut saya bapak ini orang Bali, jadi saya yakin kalo bapak tahu banyak akan tempat ini. Jadi yang benar namanya apa, Pak?”
“Namanya Tanah Rot”, jawab si bapak tua.
“Tanah Rot, Pak?” Kata si suami seolah tidak percaya.
“Ya, benar,” jawabnya lagi.
Lantas si suami berkata kepada istrinya, “Tuh kan … aku bilang juga apa. Tanah Rot, ya, Tanah Rot!”
“Jadi bukan Tanah Lot, khan, Pak?”, katanya lagi kepada bapak tua tersebut.
“Bukan!”
“Wah, kalo begitu terima kasih banyak ya, Pak,” kata si suami. “Kalo bukan karena bapak, mungkin kami di sini bisa berdebat seharian penuh mengenai hal ini. Sekali lagi terima kasih, Pak!”
“KEMBARI…, ” jawab si Bapak Tua sambil berlalu dari tempat itu.

Posted on November 29, 2009, in Humor and tagged , . Bookmark the permalink. 3 Komentar.

  1. seulas senyum sjuta sel terefleksi….#pantas aja kursus bs tertawa biayanya mahal ya…

  2. hahahahahha…. gk bisa ktawa aku.. banyak msalah… bca crita ini mlah Tulisan ini , sedikit kebntu deh mlut q

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: